:: Home :: Profil :: Visi dan Misi :: Personil :: Buku Tamu :: Forum Diskusi :: Sarana & Prasarana :: Hubungi Kami ::
User Login
Username

Password




Register
Forgot Password

Menu Utama
-Home
-Profil
-Visi dan Misi
-Personil
-Kapal Pengawas
-Laporan
-Kegiatan
-Album Foto
-Sarana & Prasarana
Interaktif
-Buku Tamu
-Forum Diskusi
-Hubungi Kami
-Kirim Artikel
Info Aktual
Pengawasan SD Perikanan
Pengawasan SD Kelautan
Siswasmas
Penanganan Pelanggaran
Info Lainnya
Kapal Pengawas
Sarana dan Prasarana Pengawasan
Pelatihan/Pertemuan Tingkat Pusat
Surat Edaran
Illegal Fishing
Pemboman Ikan
Terumbu Karang
Penangkapan Ikan
Budidaya Ikan
Pencemaran
Pengolahan dan Pemasaran
Ikan dan satwa Langka
Kelautan, Pesisir dan Pulau2 Kecil
Global Warming
Kunjungan Tamu
Wisata Bahari
Kerja Sama
Hutan Bakau
UPT PSDKP
Pangkalan
Stasiun
Satuan Kerja
POS PSDKP
Ditjen P2SDKP
Pertemuan Nasional
Laut Berperan Penting sebagai Pengendali Perubahan Iklim
Selasa, 02 Maret 2010 - oleh : admin | 165 x dibaca

Semua negara diimbau untuk menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir karena laut dan pesisir berperan penting sebagai pengendali perubahan iklim. Pernyataan itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad di sela The llth Special Session Governing Council UNEP/Global Ministerial Environment Forum (llth SSGC UNEP/ GMEF) di Nusa Dua-Bali. belum lama ini.

Fadel mengatakan, isu kelautan menjadi salah satu pilar pokok dalam pertemuan ini. Bahkan, untuk pertama kalinya UNEP memberikan penghargaan atas kepemimpinan dalam inisiatif kelautan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut dia, penerapan konsep blue carbon merupakan tindaklanjut inisiasi Indonesia dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap laut dan peran laut terhadap perubahan iklim. Direktur Eksekutif Badan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNEP) Achim Steiner mengatakan, ekosistem laut dan pesisir yang sehat memberikan manfaaat bagi perikehidupan masyarakat pesisir.

Indonesia sebagai negara bahari patut mendapatkan perhatian khusus. "Ekosistem laut dan pesisir juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim serta penyerapan karbon yang merupakan kontributor perubahan iklim," ujar dia.

Achim mengatakan, laut dan eko-sosistemnya telah berperan dalam menjaga keseimbangan penyerapan karbon. Kemampuan penyeimbang ini mulai terganggu dengan semakin banyaknya gas rumah kaca (GRK) hasil aktivitas manusia (anthropogenic) yang dibuang ke atmosfer dan akhirnya diserap oleh laut beserta ekosistemnya.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian terbukti bahwa meningkatnya emisi GRK memicu dan memacu hilang (terdegradasinya) ekosistem pesisir dan laut. Tanpa ada upaya pengurangan emisi GRK, dipastikan dalam beberapa dekade mendatang dunia akan kehilangan ekosistem pesisir dan laut "Hal ini berarti akan memberikan dampak ikutan terhadap kehidupan masyarakat pesisir, biota, serta ekosistem laut dan pesisirtegas Achim.

Berpijak pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menjaga keseimbangan penyerapan karbon dan potensi pengurangan emisi GRK UNEP bekerja sama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Pendidikan dan Pengetahuan PBB (UNESCO). Dalam kerja sama itu diperkenalkan konsep Karbon Biru (bluecarbon).

Konsep blue carbon merupakan hasil kajian atas kemampuan ekosistem laut dan pesisir yang didominasi oleh vegetasi laut seperti hutan mangrove, padang lamun, rawa pa-yau. serta rawa masin (salt marshes) dalam mendeposisi emisi karbon.

Dia melanjutkan, ekosistem pesisir dan laut diyakini mampu menjadi garda penyeimbang bersama hutan untuk mengurangi laju emisi melalui penyerapan karbon. Konsep blue carbon merujuk kepada laporan Blue Carbon - The Role of Healthy Oceans in Binding Carbon yang menggambarkan alur emisi karbon dan estimasi kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menyerap karbon dan gas rumah kaca.

Laporan ini telah diluncurkan pada 14 Oktober 2009 pada Diversitas Conference, Cape Town Conference Centre, South Africa. "Pesan penting dalam laporan ini adalah penegasan akan peran penting ekosistem laut dan pesisir dalam menjaga keseimbangan iklim," ujar dia.

Temuan Baru

Fadel menambahkan, kajian awal yang dilakukan para peneliti di Badan Riset Kelautan dan Perikanan Kementerian KP berhasil mengidentifikasi potensi laut Indonesia yang memiliki kemampuan menyerap karbon sebesar 0.3 giga ton karbon per tahun.

"Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan data satelit kandungan fitoplankton (klorofil dan suhu air laut) di laut Indonesia untuk mengestimasi kandungan karbon yang terserap. Penelitian ini tentunya masih harus diverifikasi melalui kajian lapangan (in-situ) serta memperhitungkan komponen lainnya seperti interaksi atmosfer dan laut (solubility pump)" ujar dia. Lebih lanjut Fadel menegaskan, Indonesia dengan luasan mangrove, serta padang lamun yang begitu besar, tentunya akan secara signifikan dapat memberikan kontribusi dalam proses penyerapan karbon, (rad)
 
 
 
Sumber : Investor Daily 01 Maret 2010, hal. 21

kirim ke teman | versi cetak

Berita Global Warming Lainnya

Perubahan Iklim: Saatnya Ubah Paradigma Pembangunan, Utamakan Kearifan Lokal
Diplomasi untuk Cegah Perubahan Iklim
Perubahan Iklim Akan Paksa Kawanan Ikan Lari ke Arah Kutub
Tumbuhan Laut Merupakan Kunci Rahasia Untuk Pencegahan Pemanasan Global
Perempuan dan Jejak Perubahan Iklim
Tidak ada komentar tentang artikel ini
Your Name :
Your Email :
Comment's Title :
Comment :
Security Code : Security Code
Type Code :

 
Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kendari
Jl. Samudera No. 1 Puday, Kendari 93233, Sulawesi Tenggara
Telp. (0401) 395958, 390970 Fax. (0401)390970